Ekstra Kurikuler Jurnalistik 28

Pergaulan Dalam Islam

Pergaulan yang baik ialah melaksanakan pergaulan menurut norma-norma kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan hukum syara’, serta memenuhi segala hak yang berhak mendapatkan menurut kadarnya. Agama Islam menyeru dan mengajak kaum Muslimin

melakukan pergaulan di antara kaum muslimin. Karena dengan pergaulan, kita bias mengadakan pendekatan satu sama lain. Kita bisa saling mengisi dalam kebutuhan sertadapat mencapai sesuatu yang berguna untuk kemaslahatan masyarakat yang adil dan makmur serta berakhlaqul karimah. Kemaslahatan masyarakat yang dilandasi dengan akhlaqul karimah tidak akan terwujud, kecuali dengan membangun pergaulan yang bagus dan sehat. Islam adalah agama yang dilandasi persatuan dan kasih sayang. Kecenderungan untuk saling mengenal di antara sesama manusia dalam hidup dan kehidupannya, merupakan ajaran Islam yang sangat ditekankan. Islam bukan agama yang didasarkan pada hubungan liar yang tidak mengenal batas, tetapi Islam mempunyai garis hidup yang konkret dalam batasan- batasan hidup bermasyarakat. Secara garis besar pergaulan itu dapat dilihat dari beberapa lapisan.

Lapisan pertama, mereka yang umurnya lebih tua daripada kita, atau yang lebih banyak ilmunya atau banyak ibadahnya. Maka hendaknya dalam memandang mereka, kita berperasaan bahwa mereka mempunyai keutamaan, dan kepada merekalah kita memberikan penghormatan yang semestinya. Lapisan kedua, ialah mereka yang umurnya setara dengan kita. Mereka harus kita hormati karena mungkin mereka lebih tinggi akhlaknya dibandingkan kita, amalnya lebih banyak daripada kita dan dosanya lebih sedikit daripada kita. Lapisan ketiga, mereka yang lebih muda umurnya daripada kita. Golongan ini pun harus kita hormati secara wajar karena mereka lebih muda dan lebih kurang keburukannya dibandingkan dengan kita yang sudah lanjut umurnya.

ADAB BERGAUL

Ada beberapa adab pergaulan dalam Islam antara lain:

  1. Menyukai untuk saudara seagama apa yang disukai untuk dirinya sendiri dan membenci untuk mereka apa yang dibenci untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”. Tiada menyakiti seorang muslim baik dengan perbuatannya maupun dengan perketaannya. Sebagaimana Rasulallah SAW bersabda: “Seorang muslim ialah yang mendapat selamat dari gangguan lidah dan tangannya muslim lainnya. Sedangkan seseorang muhajir ialah orang yang hijrah meninggalkan dari segala larangan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Berlaku tawadhu’ (merendahkan diri) kepada sesama saudara dan tidak menyombongkan diri terhadap orang-orang di sekitarnya. Rasulallah SAW bersabda

“Bahwasanya Allah SWT telah mewahyukan kepadaku bertawadhu’ (merendahkan diri) hingga tidak ada seorangpun yang menganiaya terhadap yang lain, dan tidak ada seseeorang yang menyombongkan dirinya terhadap yang lain.” (HR. Muslim).

  1. Menghormati orang yang lebih tua dan mengasihani orang-orang yang lebih muda. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi kepada orang yang lebih kecil (muda) dan tidak mengetahui kewajibannya terhadap orang yang lebih besar (tua). Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menipu kami. Seorang mu’min tidak/ belum dikatakan beriman sehingga ia mencintai orang mu’min yang lain, seperti mencintai terhadap diri sendiri.” (HR Thabrani dan Dhamrah).
  2. Menghadapi manusia dengan muka yang manis, sebagaimana Rasulallah SAW bersabda: “Senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah sedekah, dan amar ma’rufmu serta nahi mungkarmu juga shadaqah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan shadaqah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu, merupakan shadaqah.” (HR. Bukhari).

Tidak mudah mendengar berita-berita buruk yang disampaikan orang lain, terutama tentang keburukan dirinya. Sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga bagi orang senang adu domba.” (HR. Bukhari-Muslim dari Khudzaifah).

  1. Memelihara kehormatan seseorang baik jiwa dan hartanya dari aniaya orang lain. Seorang muslim yang baik, apabila menemui orang-orang yang suka mengadu domba, janganlah ikut menyambung pembicaraan itu. Sebaliknya, ia sebaiknya bersikap diam, sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya dari belakang, niscaya Allah akan menutupi api neraka dari mukanya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani). Dalam bergaul, kita harus dapat menempatkan seseorang pada tempatnya; menghormati dan memuliakannya secara proporsional, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Tempatkanlah manusia di tempat mereka masing-masing.” (HR. Abu Dawud).

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Istilah pergaulan berarti kegiatan manusia untuk membaur bersama manusia lainnya dan berinteraksi satu sama lain. Dalam islam pergaulan diatur sedemikian mungkin sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti halnya konflik dan lain sebagainya. Seperti yang kita ketahui bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam perbedaan dan berasal dari berbagai suku dan Allah menghendaki manusia untuk saling mengenal satu sama lain, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13 yang berbunyi: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13).

Etika Pergaulan Islami

Islam adalah agama yang mulia dan mengatur segala aspek kehidupan termasuk pergaulan. Dalam islam ada beberapa etika yang harus dipenuhi dan hal ini disebut dengan etika islam. Secara bahasa kata etika berasal dari kata ethokos (Yunani) atau ethos yang memiliki arti karakter, kebiasaan, kecenderungan dan penggunaan. Kata etika itu sendiri juga cenderung identik dengan kata dalam bahasa latin mos yang artinya adat atau tata cara kehidupan. Dengan kata lain etika islami adalah sistem atau tata cara yang mengatur tingkah laku seseorang terutama dalam masyarakat. Etika islam adalah etika yang dilandasi oleh hokum islam dan mutlak mengikat semua umat muslim terutama dalam pergaulan. Pokok dasar etika islam tercantum dalam Al-qur’an seperti firman Allah dalam Al-qur’an surat Al qalam

ayat 4 dan Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: ”Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung”. (Al Qalam ; 4)

”Hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebaikan (al-khair), menyerukan kepadayang ma’ruf (yang baik) dan melarang dari perbuatan munkar dan itulah orang-orang yang bahagia.” (Q.S. Ali-Imran: 104).

NAMA : FAAZA ZHAFIRA RAZAK
KELAS : 7.4