HIKMAH DIBALIK PANDEMI COVID 19 TERHADAP PJJ

Musibah dalam bentuk apapun pasti akan dialami manusia (QS Al Baqarah 155), yang jika menimpa orang-orang kafir, maka mutlak sebagai azab (QS As Sajdah : 21). Sebaliknya jika menimpa orang –orang mukmin, pasti bagian dari bentuk kasih sayang Allah. Paling tidak ada tiga kemungkinan bentuk kasih sayang Allah SWT di balik musibah yang menimpa hamba-hambanya yang dicintai-Nya. Pertama adalah sebagai ujian keimanan (QS At Thalaq 2-3).

Ujian tentu saja sesuatu yang positif dan yang sudah pasti tidak akan lulus adalah mereka yang tidak pernah ikut ujian. Kedua sebagai pilihan Allah yang terbaik. Di mana tidak tertutup kemungkinan yang dikira sesuatu tidak baik itu , justru sesuatu yang sangat baik yang sedang Allah rencanakan dan tetapkan untuk kemaslahatan hidup di dunia dalam menggapai kebahagiaan yang hakiki dan abadi di akhirat nanti (QS Al Bagarah 216). Ketiga sebagai teguran dan peringatan dari Allah SWT yang disebabkan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.

Sudah banyak orang di seluruh dunia yang terpapar dengan virus ini, bahkan menjadi korban kemudian meninggal dunia. Wabah virus ini telah memakan banyak korban seperti tercatat di negara Tiongkok, Italia, Spanyol dan negara besar lain di dunia. Penyebaran virus ini pun sulit dikenali, karena virus ini baru dapat dikenali sekitar 14 hari. Namun, orang yang telah terpapar dengan virus ini memiliki gejala seperti demam di atas suhu normal manusia atau diatas suhu 38 C, gangguan pernafasan seperti batuk, sesak nafas serta dengan gejala lainnya seperti gangguan tenggorokan, mual, dan pilek. Apabila gejala tersebut sudah dirasakan, maka perlu adanya karantina mandiri (self quarantine).

Penyebaran virus covid-19 menjadi penyebab angka kematian yang paling tinggi di berbagai negara dunia saat ini. Sudah banyak korban yang meninggal dunia. Bahkan banyak juga tenaga medis yang menjadi korban lalu meninggal. Hal ini menjadi permasalahan yang harus dihadapi oleh dunia saat ini, untuk melakukan berbagai kebijakan termasuk di negara Indonesia sendiri. Indonesia pun juga merasakan akan dampak penyebaran virus ini. Semakin hari semakin cepat menyebar ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Di sisi lain, tahun ajaran baru untuk anak sekolah sudah akan segera dimulai. Namun tanda-tanda kembali ke sekolah di tengah aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) masih nampak abu-abu. Tak ayal, solusi terakhir adalah tetap membiarkan anak belajar secara daring.

Akibat dari pandemi covid-19 ini, menyebabkan diterapkannya berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 di Indonesia. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah di Indonesia salah satunya dengan menerapkan himbauan kepada masyarakat agar melakukan physical distancing yaitu himbauan untuk menjaga jarak diantara masyarakat, menjauhi aktivitas dalam segala bentuk kerumunan, perkumpulan, dan menghindari adanya pertemuan yang melibatkan banyak orang. Upaya tersebut ditujukan kepada masyarakat agar dapat dilakukan untuk memutus rantai penyebaran pandemi covid-19 yang terjadi saat ini.

Pemerintah menerapkan kebijakan yaitu Work From Home (WFH). Kebijakan inimerupakan upaya yang diterapkan kepada masyarakat agar dapat menyelesaikan segala pekerjaan di rumah. Pendidikan di Indonesia pun menjadi salah satu bidang yang terdampak akibat adanya pandemi covid-19 tersebut. Dengan adanya pembatasan interaksi, Kementerian Pendidikan di Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yaitu dengan meliburkan sekolah dan mengganti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan sistem dalam jaringan (daring). Hal ini akan menimbulkan ikatan “Cinta”

  • Ikatan “Cinta” Siswa dengan Orang tua

Di masa pandemi ini, ananda belajar dari rumah. Dan mau tidak mau orangtua dengan segudang kesibukannya akan memiliki satu lagi tugas penting yang tidak mungkin dielakkan Aneka kendala kerapkali terjadi, karena ini mungkin jadi moment pertama kali dan dalam jangka waktu yang tidak bisa diperhitungkan. Menjadi “GURU” bagi anak-anak kita. Tugas yang amat sangat menantang bukan? Secara fisik dan tentunya psikologis.

  • Mendekatkan jalinan hati.

Orangtua jadi punya lebih banyak waktu untuk menjalin komunikasi dan mendekatkan hati dengan anak-anak. Kita jadi lebih mengenal hal-hal yang membuat motivasi belajarnya meningkat atau yang menjadikannya terpuruk. Percayalah, kehadiran orangtua dalam belajar ananda, akan menimbulkan kepercayaan diri sehingga menumbuhkan semangat untuk belajar jadi lebih tinggi. Anak-anak juga semakin yakin bahwa orangtuanya menyayanginya dan akan membantunya di saat mengalami kendala. Mereka tahu mereka dikasihi sepenuh hati.

  • Membantunya mengenal kekuatan dan meningkatkan keterbatasannya.

Jika selama ini kita kesulitan mengetahui apa kendala ananda dalam belajar atau mengapa prestasinya belum maksimal. Maka ketika mendampingi mereka belajar, kita mulai dapat mengamati dan menemukan mengapa itu terjadi? Membantunya mengenali diri, potensi dan gaya belajarnya dan membantunya mengembangkan diri. Kita mulai dapat mengenali hobi dan kekuatan dirinya dan menggunakannya untuk memotivasi agar ia menggunakannya untuk memaksimalkan diri dan meraih prestasi dalam hal apapun yang dimilikinya. Semua manusia dianugerahi potensi. Pun demikian dengan mereka.

  • Melatih pengendalian emosi.

Mendampingi anak bukan pekerjaan mudah. Jika mereka pergi ke sekolah, orangtua jadi punya waktu untuk melakukan pekerjaan dengan nyaman, ada kesempatan baca novel kesukaan atau sekedar leyeh-leyeh menghela napas panjang sebelum mulai berjibaku dengan emosi karena harus mendampingi dan melayani buah hati kembali. Kalau anak-anak di rumah seharian, mungkin hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Maka, orangtua perlu berlatih mengendalikan diri dan emosi agar tetap “waras” menghadapi polah tingkah mereka. Moment ini mungkin gak akan terulang maka belajar mengendalikan diri harus dilakukan agar mereka melakukan hal yang sama kepada kita saat kita tua nanti.

  1. Ikatan “Cinta” Siswa dengan Guru

Awalnya para siswa merasa senang karena tidak usah bangun pagi berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu. Namun, siapa sangka kebijakan itu akan berlangsung lama, bahkan sudah hampir tiga bulan ini pemerintah belum juga memutuskan mengaktifkan kembali belajar di sekolah. Tidak sedikit di antara para siswa merindukan suasana sekolah di antaranya belajar tatap muka bersama guru di dalam kelas. Tak hanya itu, para siswa juga rindu bertemu dan bergaul bersama teman sebaya di lingkungan sekolah.

Selama ini pembelajaran dilakukan dengan cara jarak jauh. Guru cenderung memberikan materi pembelajaran dan tugas melalui ponsel yang kemudian dikerjakan oleh para siswa. Kondisi itu sangat menyulitkan Guru karena jika ada hal yang tidak mengerti sulit untuk ditanyakan.

Dilihat dari kumpulan-kumpulan tulisan tersebut, menurut saya, “semua yang terjadi dan dialami mesti diambil hikmahnya. Pertama, waktu bersama dengan orangtua akan semakin banyak, sebab sesungguhnya lingkungan keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama”.

Kedua, siswa semakin terasah untuk belajar secara mandiri tidak terlalu bergantung kepada guru. Ketiga, siswa terasah dalam memanfaatkan teknologi, sebab teknologi sudah tidak bisa dipisahkan dari setiap nadi kehidupan. Dan keempat, mendukung upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Menurut saya, Segala kebijakan yang diambil oleh Kemenag terkait dengan pembelajaran jarak jauh dan upaya memutus mata rantai Covid-19 telah melalui kajian yang mendalam. Hal itu demi kebaikan bersama agar situasi segera pulih seperti sediakala. Apabila keadaan telah normal maka proses pembelajaran tatap muka akan berlangsung kembali.

 

Penulis : Esthy Srigati, SP, M.Pd ( Guru IPA dan Waka Kurikulum MTs N 28 Jakarta)